RENUNGAN FAJAR
Qolbun Salim #8
Kondisi Kejiwaan Seseorang (Nafsul Insan)
Seorang Mukmin kata Nabi Saw, dihadapkan pada 5 tantangan. Dalam kitab Makaarim al-Akhlaq, Abu Bakr bin Laal meriwayatkan hadis dari Anas bin Malik RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Setiap mukmin dihadapkan pada lima ujian; mukmin yang menghasudnya, munafik yang membencinya, kafir yang memeranginya, nafsu yang menentangnya, dan setan yang selalu menyesatkannya.” (HR ad-Dailami).
Kali ini kita fokus pada poin ke empat yakni nafsu yang menentangnya. Setiap diri kita ada potensi untuk ke arah keburukan, dan potensi itu biasa disebut al hawa, atau kadang disebut hawa nafsu. Al Hawa ini penyimpangan dalam hal agama sedangkan syahwat penyimpangan dalam hal dunia, dua-duanya tantangan dari internal masnusia. Menurut Imam Al Ghozali, kondisi kejiwaan manusia (nafsul insan) berada dalam 3 keadaan:
1. Nafsul Muthmainnah (kondisi Kejiwawan yang tenang)
Hal ini terjadi manakala keimanan mampu mengedalikan al hawa (hawa nafsu), maka terjadilah kondisi kejiwaan yang tenang, dan ini diharapkan terjadi pada kita saat kita dipanggil Allah Swt (Qs. Al Fajr:28).
2. Nafsu Allawamah (Kondisi jiwa yang menyesal)
Hal ini terjadi apabila antara keimanan dan al hawa saling bergantian kedudukannya, kadang bisa dikendalikan kadang tidak, maka manusia pada kondisi ini seringkali menyesal setelah melakukan kemaksiatan. Pada kondisi inilah jiwa harus diperkuat keimanannya agar cenderung ke arah kebaikan.(Qs. Al Qiyamah:2)
3. Nafsu Amarah Bis Suu’ (kondisi jiwa cenderung ke arah keburukan)
Hal ini terjadi manakala keimanan tidak mampu lagi mengendalikan al hawa (krn sedikitnya iman Seseorang). Shg cenderung terus ke arah keburukan (Qs. Yusuf:53). Inilah yang diingatkan nabi dlm hadist di atas, merupakan tantangan internal bagi kita.
Semoga kita dikaruniai jiwa yang tenang (Nafsul Muthmainah) hingga akhir hayat kita..aamiin
Comments
Post a Comment